Candi Mendut : Sulit Punya Anak Memohon ke Dewi Kesuburan


Candi ini terletak di desa Mendut, Mungkid, Magelang. Terletak sekitar dua kilometer tenggara ibu kota Kabupaten Magelang. Candi Mendut berdekatan dengan Candi Pawon serta Candi Borobudur. Tiga candi ini biasanya masuk jadi satu paket kunjungan wisata. Baik wisatawan domestik maupun dari manca negara. Banyak orang masih percaya, kekeramatan Candi Mendut memberi tuah. Bahkan dipercaya tuah itu berkhasiat pengobatan.

SEBAGAI candi Buddha yang monumental, setiap kali berlangsung peringatan Hari Raya Waisak, upacara dipusatkan di ketiga candi ini. “Ketika upacara Tri Suci Waisak berlangsung, prosesi dimulai dari candi ini lalu ke candi Pawon dan diteruskan menuju Borobudur,” kata Maryono (50), salah satu karyawan Dinas Purbakala.

Menurutnya, bangunan candi Mendut ditemukan 1836 dalam keadaan tertimbun semak belukar. Penggalian dan pembersihan terus dilakukan secara bertahap. Dan bersamaan dengan perbaikan candi Borobudur, 1908, berhasil disusun kembali sebagian atap candi. Beberapa stupa kecil juga dapat dipasang lagi.

“Para ahli memperkirakan candi tersebut dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra,” jelas Maryono.

Keunikan Mendut dibanding candi-candi lain di Jawa bahkan di Indonesia, antara lain pada pintu masuknya yang menghadap ke barat laut. Sebab kebanyakan candi menghadap ke timur. Selain itu di bilik candi terdapat 3 arca dengan ukuran cukup besar. Masing-masing terbuat dari bongkahan batu utuh.

Tiga arca tersebut makin menguatkan kekaguman betapa hebat karya seni nenek-moyang bangsa Indonesia. Ketiga arca tersebut adalah Arca Dyani Buddha Cakyamuni, menghadap ke barat dalam posisi duduk. Kedua kakinya menyiku ke bawah pada landasan teratai. Kedua Arca Bodhisatva Avalokitesvara, menghadap ke selatan, juga posisi duduk dengan kaki kiri dilipat ke dalam sedang kaki kanan menjulur ke bawah. Dan yang ketiga adalah Arca Bodhisatva Vajrapani, menghadap ke utara, dengan posisi duduk pula. Kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha sedang kaki kiri menjulur ke bawah. “Vajrapani dan Avalokitesvara disebut-sebut sebagai pengiring atau pengawal Buddha Cakyamuni,” tandas Maryono.

Relief-relief yang terukir indah juga bisa ditemukan di beberapa dinding candi. Misal di sebelah kiri pintu masuk ke bilik candi terlihat relief Hariti. Tergambarkan Hariti sedang duduk sambil memangku anak. Di sekelilingnya terdapat beberapa anak yang sedang bermain.

Banyak yang bercerita, Hariti awalnya raksasa yang gemar makan manusia. Namun setelah bertemu Sang Budha ia bertobat dan berubah menjadi pelindung anak-anak. Bahkan dikenal dengan Dewi Kesuburan (Fertility Goddes). Karena Dewi Kesuburan itulah barangkali yang mendorong beberapa pasangan yang belum diberi momongan sering ziarah ke Candi Mendut. Pak Maryono mengaku pernah ketemu pasutri yang berasal dari Jakarta dan doanya agar diberi keturunan bisa terkabulkan “Mereka pernah bercerita, sudah 5 tahun menikah namun belum punya anak. Tidak berapa lama setelah berdoa di dalam bilik candi Mendut bisa punya keturunan,” jelas Maryono.

Dito (46) teman satu kantor Pak Maryono menambahkan, orang-orang yang berkunjung ke Candi Mendut berasal dari berbagai tempat serta agama. Begitu juga yang berdoa atau meditasi di candi tersebut bisa berasal dari bermacam agama. Atau lintas agama. “Yang penting keyakinan, keikhlasan dan kemantapan mereka saat berdoa pada Tuhan,” tutur Dito.

Ditambahkan, orang Jepang pernah ada yang berdoa mohon kesembuhan dari sakit lumpuhnya. Ketika benar-benar sembuh, 1985 balik lagi ke Mendut dan membangun prasasti berbahasa Jepang, diletakkan di luar pagar barat Candi Mendut.

“Selain membangun prasasti, menurut kabar orang Jepang tersebut juga mengadakan upacara pernikahan putranya di Yogyakarta,” tambah Dito.

Dari Candi Mendut berjalan sekitar 1,5 kilometer ke arah selatan akan ditemukan candi Pawon. Di dalam candi tersebut juga ada bilik namun tak ada arca atau patung satu pun. Dan banyak yang tidak tahu fungsi candi tersebut. “Karena letaknya di antara Candi Mendut dan Borobudur, bisa jadi sebagai tempat istirahat ketika melakukan perjalanan ziarah,” ungkap Ny. Ngatini (41) warga sekitar Candi Pawon.

Hal-hal aneh di sekitar candi tersebut, menurutnya, warga sekitar candi tak banyak menemui. “Kami yang biasa ngedep candi itu malah tak menemui, namun entah kalau orang-orang yang datang dari jauh. Meski datang dari jauh, jika orang biasa saya rasa tak mudah bisa menjumpai. Kalau yang punya indera ke-6 bisa jadi menemukannya,” paparnya.
 
sumber : pos metro balikpapan


ARTIKEL LAINNYA

pedang tologu asal nias ini dipercaya ada kekuatan gaibnya

bambu gila permainan mistis dari ternate

kekuatan ilmu santet

mahkota dewa : obat herbal masa depan dari indonesia

benarkah ada hartu karun di situs gunung padang?


belajar metafisika